Beranda » Kuliah » Sutono, Sang Pemulung yang Mampu Kuliahkan Anak

Sutono, Sang Pemulung yang Mampu Kuliahkan Anak

 

SUTONO – Penghasilan boleh tak seberapa, tapi menguliahkan anaknya menjadi tekad Sutono

DI MATA Sutono (40), barang tak berharga yang sudah dianggap sampah oleh orang lain, tak ubahnya emas berlian. Ia kumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung yang digendongnya. Dari sanalah ia bisa memiliki penghasilan. Kendati tidak besar, lumayan buat menyambung hidup. Hebatnya, lelaki pemulung barang bekas yang kerap dicibir orang karena profesinya ini, ternyata mampu menguliahkan anaknya.

Sutono tidak pernah putus asa di tengah cuaca yang tidak menentu sekali pun. Di kala cuaca panas, ia rela berpanas-panasan, dan dikala hujan ia pun ikhlas berbasah-basahan. Tekadnya tak muluk. Bisa menyambung hidup, plus menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Bahkan bila memungkin bisa menguliahkan anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi, agar kehidupan anaknya kelak bisa jauh lebih baik.

Diakui Sutono, menjalankan profesi sebagai pemulung sampah, bukanlah kehendaknya. Kenyataan hidupnyalah yang menyeretnya pada pekerjaannya saat ini. Tapi begitu, ia tidak berputus asa. Dengan tabah ia jalani kehidupannya dengan penuh keikhlasan, seraya berharap ke depan akan ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebelum Sutono menjadi pemulung, kehidupanya bisa disebut cukup lumayan. Selain memiliki rumah, juga perkerjaan tetap. Karena terlilit utang, rumahnya di Jalan Sayuran disita rentenir.  Kini, semuanya itu tinggal kenangan semata.

Ia bercerita, dulu sempat bisnis sayuran di pasar  Rancamanyar. Usahanya juga cukup maju.  Namun ujian berat datang menimpanya. Istri yang dicintainya Nining terkena stroke, dan membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Segala cara telah ditempuh untuk mengembalikan kesehatan istrinya. Bahkan, berbagai pengobatan alternatif pun dicobanya.  Harta benda yang dimilikinya pun habis dijual demi kesembuhan istrinya.

Namun takdir menyatakan lain. Kesembuhan istrinya tak kunjung datang, kian hari kian parah. Bahkan tak lama kemudian, istrinya dipanggil Yang Mahakuasa. Diakui Sutono, dirinya sempat stres dan hampir bunuh diri, karena kehilangan istri yang amat disayanginya.

Kesedihanya pun tak cukup sampai di situ, Allah kembali menguji Sutono dengan lilitan utang, hingga rumahnya disita rentenir .Namun di tengah kenyataan hidup yang menyedihkan itu, Sutono menemukan kembali gairah hidupnya. Ia tidak lagi berputus asa,  kembali bersemangat meneruskan  hidupnya demi anak semata wayangnya. Ia berkeinginan anaknya kelak tidak bernasib sama seperti ayahnya .

Berbagai pekerjaan pernah  Sutono jalani. Dari mulai sebagai penambal  ban, tukang parkir, loper koran, hingga menjadi pedagang asongan di lampu merah. Namu semuanya tidak bertahan lama. Ia akhirnya memilih pekerjaan sebagai pemulung.

 

Kerap Dicemooh

Dalam keseharian, Sutono  harus rela berjalan malam-malam di tengah kesunyian untuk berebut satu dua tiga barang bekas.  Sutono  memungutnya, yang bagi kebanyakan orang sudah  tidak bermanfaat. Cemoohan sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun ia tetap tegar menjalaninya. Bahkan Sutono sempat dituduh mencuri saat memulung barang bekas di daerah  Katapang Kopo.

Penghasilannya tak seberapa. Rata-rata Rp.15.000 kalau lagi habis musim hujan, tapi kalau musim panas biasanya sedikit, sekitar Rp.8.000. Kendati hanya berpenghasilan seperti itu, Sutono sanggup menyekolahkan Asep, anaknya hingga bangku perguruan tinggi. ”Rezeki sudah ada yang ngatur,“ ujarnya Sutono. [Andrian Gunawan/Jurnalistik 4A/UIN Bandung]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s