Ciri-Ciri Bahasa Jurnalistik

Secara spesifik, bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa jurnalistik media online internet. Bahasa jurnalistik surat kabar, misalnya, kecuali harus tunduk kepada kaidah atau prinsip-prinsip umum bahasa jurnalistik, juga memiliki ciri-ciri yang sangat khusus atau spesifik. Hal inilah yang membedakan dirinya dari bahasa jurnalistik media lainnya.

Ada 17 ciri utama bahasa jurnalistik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut, yaitu:

Sederhana

Sederhana berarti selalu mengutamakan atau memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.

Singkat

Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat sederhana.

Padat

Padat berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca.

Lugas

Luas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.

Jelas

Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, jelas sasaran atau maksudnya.

Jernih

Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan.

Menarik

Artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika.

Demokratis

Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa. Bahasa jurnalistik menekankan aspek fungsional dan komunal , sehingga sama sekali tidak dikenal pendekatan feodal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan keraton.

Populis

Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca.

Logis

Artinya, apa pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense).

Gramatikal

Berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku.

Menghindari kata tutur

Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh: bilang, dibilangin, bikin, kayaknya, mangkanya, kelar, jontor, dll.

Menghindari kata dan istilah asing

Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan. Menurut teori komunikasi, media massa anonim dan heterogen, tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk.

Pilihan kata (diksi) yang tepat

Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya, setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.

Mengutakan kalimat aktif

Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Sedangkan kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman.

Menghindari kata atau istilah teknis

Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Kecuali tidak efektif, juga mengandung unsur pemerkosaan.

Tunduk kepada kaidah etika

Salah satu fungsi utama pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran seseorang, tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Sebagai pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku.

(Dirangkum dari buku Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalistik; karya Drs. A.S. Haris Sumadiria, M.Si.)

Sekilas Tentang Jurnalisme Sastrawi

Jurnalisme sastrawi adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolfe, wartawan-cum-novelis, pada 1960an memerkenalkan genre ini dengan nama “new journalism” (jurnalisme baru).

Pada 1973 Wolfe dan EW Johnson menyebutkan bahwa genre ini (jurnalisme baru) berbeda dari reportase sehari-hari, karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person poin of view), serta penuh dengan detail.

Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua, tapi bisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.

Beberapa pemikir jurnalisme mengembangkan penemuan Wolfe. Ada yang pakai nama “narrative reporting”. Ada juga yang pakai nama “passionate journalism”. Pulitzer Prize menyebutnya “explorative journalism”. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. Lebih dalam daripada apa yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter, ada drama ada babak, ada adegan, ada konflik. Laporannya panjang dan utuh – tidak dipecah-pecah ke dalam beberapa laporan.

Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pada narasi, menurut Clark dalam satu esei Nieman Reports, who berubah menjadi karakter, what menjaid plot atau alur, where menjadi setting, when menjadi kronologi, why menjadi motif, dan how menjadi narasi.

Menurut Robert Vare yang pernah bekerja untuk majalah The New Yorker, salah seorang dosen di Harvard University, ada tujuh pertimbangan bila Anda hendak memilih narasi :

1.         Fakta

Jurnalisme menyucikan fakta. Setiap detail harus berupa fakta. Namun jurnalisme sastrawi bukan yang ditulis dengan kata-kata puitis. Narasi boleh puitis, tapi tak semua prosa yang puitis adalah narasi. Verivikasi adalah esensi jurnalisme, maka apa yang disebut sebagai jurnalisme sastrawi juga mendasarkan diri pada verifikasi.

2.         Konflik

Suatu tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Sangketa bisa berupa pertikaiansatu orang dengan orang lain. Bisa berupa pertikaian antarkelompok. Namun sangketa juga bisa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Juga bisa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Soal interpretasi agama sering jadi sangketa. Pendek kata, konflik unsur penting dalam narasi.

3.         Karakter

Narasi minta ada karakter-karakter. Karakter membantu mengingat cerita. Ada karakter utama, karakter pembantu.

4.         Akses

Seyogyanya punya akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, buku harian, gambar, kawan, musuh, dan sebagainya.

5.         Emosi

Bisa rasa cinta, pengkhianatan, kebencian, kesetiaan, kekaguman, sikap menjilat, dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita Anda hidup. Emosi juga bisa bolak-balik, mulanya cinta lalu benci. Mungkin ada pergulatan batin, perdebatan pemikiran.

6.         Perjalanan Waktu

“Series of time”. Peristiwa berjalan bersama waktu. Konsekuensinya, penyusunan struktur karangan. Mau bersifat kronologis dari awal hingga akhir, atau mau membuat flashback. Panjang perjalanan waktu tergantung kebutuhan.

7.         Unsur Kebaruan

Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan dari kacamata orang biasa yang jadi saksi mata peristiwa besar.

Salah satu kesalahpahaman yang paling sering dijumpai oleh Andreas Harsono soal jurnalisme sastrawi terletak pada masalah ranahnya (domain). Budi Setiyono menerangkan bahwa jurnalisme hanya sah bila berada pada ranah fakta. Ia bagaimanapun adalah kerja kewartawanan. Seorang wartawan bisa jadi seorang sastrawan. Namun tak semua sastrawan, yang menulis fiksi, bisa disebut wartawan.

 

 

Bagi Andreas Harsono, jurnalisme sastrawi adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca.

 

Septiawan Santana dalam bukunya “Menulis Feature” bahkan mengatakan : beruntung ada sastra. Karena menurutnya, ketika jurnalisme mengenal sastra, teknik penulisan feature menjadi sarana para jurnalis dalam mengembangkan materi liputannya. Dari situlah Septiawan berpendapat bahwa jurnalisme memulai eksperimentsi sastranya melalui feature, dalam pengembangan penulisan di kitaran penulisan berita (news) dan penulisan opini (views). Dalam berita, feature dipakai sebagai alat mengembangkan pemberitaan human interest.

 

Bicara soal penulisan gaya sastrawi, saya teringat akan definisi feature menurut Goenawan Mohammad dalam bukunya yang berjudul “Seandainya Saya Wartawan Tempo” bahwa feature tidak seperti penulisan berita biasa, karena penulisan ini memungkinkan wartawan “menciptakan” sebuah cerita.

Mungkin dari segi teknis penulisan, jurnalisme sastrawi dan feature ibarat satu rumpun, sama-sama rumpun sastrawi. Gaya penulisan ke dua berita ini mungkin bisa mengecohkan para pembaca yang sekaligus menjadi pengamat jurnalistik : ini feature atau jurnalisme sastrawi? Atau bisa saja begini : ini berita investigatif atau jurnalisme sastrawi?

Tetapi jika kita menelaah definisi jurnalisme sastrawi yang disodorkan oleh Andreas, maka akan terlihat kalimat seperti ini : reportase secara mendalam. Ini bermakna bahwa berita yang disajikan dalam jurnalisme sastrawi bersifat depth atau mungkin investigatif, bahkan menurut Wolfe, jurnalisme sastrawi lebih mendalam dari pada berita investigasi.

Menurut Ashadi Siregar dalam bukunya “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa”, definisi laporan mendalam pada dasarnya memiliki struktur dan cara penulisan yang sama dengan berita kisah (feature). Perbedaanya terletak pada adanya unsur manusiawi yang terdapat dalam berita kisah yang belum tentu ditemukan dalam laporan mendalam.

Pemaparan sejumlah keterangan sebelumnya telah menghasilkan sebuah komparasi awal bahwa Feature, in depth reporting, dan jurnalisme sastrawi mengangkat sebuah informasi yang mungkin terabaikan situasinya dalam berita biasa di surat kabar.

 

Sedangkan keterangan unsur kedalaman berita, unsur manusiawi, dan sebagainya, menghasilkan sebuah komparasi kedua bahwa feature bukanlah in depth reporting atau keduanya bukanlah jurnalisme sastrawi. Meskipun dalam segi teknis, ketiga berita menggunakan gaya penulisan atau penuturan berkisah yang sama, dan dilengkapi dengan unsur manusiawi, emosi, dan sebagainya.

Menanggapi rasa prihatin Andreas terhadap nihilnya lahan jurnalisme sastrawi di ranah media massa cetak, saya rasa telah dijawab dengan singkat oleh Riyono Pratikno bahwa Indonesia telah menghadapi lima revolusi komunikasi secara serentak, sehingga di negara berkembang – seperti Indonesia – pengaruh yang segera tampak adalah cepatnya media elektronik diperkenalkan dan dipakai/ diterima dengan akibat tersedianya informasi bagi orang-orang yang masih buta huruf.

Melintangnya kendala pengembangan dan pemasaran jurnalisme sastrawi di kalangan masyarakat saya rasa terkait dengan unsur novelity atau kebaruan. Masyarakat sangat membutuhkan berita up to date dan live reporting untuk melihat langsung kejadian, dan itu hanya dimiliki oleh televisi. Surat kabar juga bisa dikatakan unggul, karena memiliki unsur detail yang ditunjang dengan data dan gambar. Setidaknya, meskipun berita langsung dalam surat kabar terlambat “adu lari” dengan berita televisi, namun kedua hal ini adalah kebutuhan utama masyarakat.

Sedangkan jurnalisme sastrawi bisa kita saksikan bersama dalam buku terbitan Pantau bahwa berita ini adalah berita yang tidak main-main, yang notabene membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengolahnya menjadi sebuah berita yang enak dan menarik. Faktanya, apakah masyarakat memiliki banyak waktu untuk membaca berita panjang? Apakah masyarakat sabar menunggu sebuah informasi? Apakah semua masyarakat tertarik dengan topik berita yang disajikan oleh media yang bersangkutan? Apakah masyarakat benar-benar membutuhkan kompleksitas permasalahan (fenomena disorot lewat sejumlah sudut pandang) agar mereka memeroleh pemahaman yang lebih baik, lengkap, dan menyeluruh? Jawabannya masih bias. Maka dari itu, perlu diadakan survei, sebelum media Indonesia berkiblat ke negara Adikuasa tanpa memertimbangkan kebutuhan masyarakat Indonesia secara matang – karena kita semua tahu Indonesia tidak sama dengan Amerika.

 

Sumber : Buku Jurnalisme Sastrawi

Penulis : Andreas Harsono dan Budi Setiyono

Sutono, Sang Pemulung yang Mampu Kuliahkan Anak

 

SUTONO – Penghasilan boleh tak seberapa, tapi menguliahkan anaknya menjadi tekad Sutono

DI MATA Sutono (40), barang tak berharga yang sudah dianggap sampah oleh orang lain, tak ubahnya emas berlian. Ia kumpulkan dan memasukkannya ke dalam karung yang digendongnya. Dari sanalah ia bisa memiliki penghasilan. Kendati tidak besar, lumayan buat menyambung hidup. Hebatnya, lelaki pemulung barang bekas yang kerap dicibir orang karena profesinya ini, ternyata mampu menguliahkan anaknya.

Sutono tidak pernah putus asa di tengah cuaca yang tidak menentu sekali pun. Di kala cuaca panas, ia rela berpanas-panasan, dan dikala hujan ia pun ikhlas berbasah-basahan. Tekadnya tak muluk. Bisa menyambung hidup, plus menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi. Bahkan bila memungkin bisa menguliahkan anaknya hingga jenjang yang lebih tinggi lagi, agar kehidupan anaknya kelak bisa jauh lebih baik.

Diakui Sutono, menjalankan profesi sebagai pemulung sampah, bukanlah kehendaknya. Kenyataan hidupnyalah yang menyeretnya pada pekerjaannya saat ini. Tapi begitu, ia tidak berputus asa. Dengan tabah ia jalani kehidupannya dengan penuh keikhlasan, seraya berharap ke depan akan ada perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebelum Sutono menjadi pemulung, kehidupanya bisa disebut cukup lumayan. Selain memiliki rumah, juga perkerjaan tetap. Karena terlilit utang, rumahnya di Jalan Sayuran disita rentenir.  Kini, semuanya itu tinggal kenangan semata.

Ia bercerita, dulu sempat bisnis sayuran di pasar  Rancamanyar. Usahanya juga cukup maju.  Namun ujian berat datang menimpanya. Istri yang dicintainya Nining terkena stroke, dan membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Segala cara telah ditempuh untuk mengembalikan kesehatan istrinya. Bahkan, berbagai pengobatan alternatif pun dicobanya.  Harta benda yang dimilikinya pun habis dijual demi kesembuhan istrinya.

Namun takdir menyatakan lain. Kesembuhan istrinya tak kunjung datang, kian hari kian parah. Bahkan tak lama kemudian, istrinya dipanggil Yang Mahakuasa. Diakui Sutono, dirinya sempat stres dan hampir bunuh diri, karena kehilangan istri yang amat disayanginya.

Kesedihanya pun tak cukup sampai di situ, Allah kembali menguji Sutono dengan lilitan utang, hingga rumahnya disita rentenir .Namun di tengah kenyataan hidup yang menyedihkan itu, Sutono menemukan kembali gairah hidupnya. Ia tidak lagi berputus asa,  kembali bersemangat meneruskan  hidupnya demi anak semata wayangnya. Ia berkeinginan anaknya kelak tidak bernasib sama seperti ayahnya .

Berbagai pekerjaan pernah  Sutono jalani. Dari mulai sebagai penambal  ban, tukang parkir, loper koran, hingga menjadi pedagang asongan di lampu merah. Namu semuanya tidak bertahan lama. Ia akhirnya memilih pekerjaan sebagai pemulung.

 

Kerap Dicemooh

Dalam keseharian, Sutono  harus rela berjalan malam-malam di tengah kesunyian untuk berebut satu dua tiga barang bekas.  Sutono  memungutnya, yang bagi kebanyakan orang sudah  tidak bermanfaat. Cemoohan sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun ia tetap tegar menjalaninya. Bahkan Sutono sempat dituduh mencuri saat memulung barang bekas di daerah  Katapang Kopo.

Penghasilannya tak seberapa. Rata-rata Rp.15.000 kalau lagi habis musim hujan, tapi kalau musim panas biasanya sedikit, sekitar Rp.8.000. Kendati hanya berpenghasilan seperti itu, Sutono sanggup menyekolahkan Asep, anaknya hingga bangku perguruan tinggi. ”Rezeki sudah ada yang ngatur,“ ujarnya Sutono. [Andrian Gunawan/Jurnalistik 4A/UIN Bandung]

 

Antusiasme Pengunjung Muharram fest

 

Walaupun sempat di guyur hujan acara muharram fest tidak membuat Antusiasme pengunjung surut . acara yang dimulai pada tanggal 15-18 november 2012 dalam rangka memperingati tahun baru islam 1 muharram ,  pada hari pertama setelah acara dibuka tidak terlihat sepi pengunjung . hal itu dikarenakan antusiasme masyarakat pada acara muharram fest ini terlihat karena walaupun ada hujan yang sempat mengguyur di kawasan masjid PUSDAI tidak membuat para pengunjung sepertinya itu mengurungkan niatnya untuk datang ke muharram fest.

Setelah hujan reda , para pengunjung pun mulai  berdatangan . stand-stand makanan dan minuman mulai dipenuhi oleh pembeli yang sebagian besar membawa serta keluarganya ke muharam fest ini . tidak hanya stand makanan , stand fashion pun ramai didatangi oleh para pembeli .tanggapan para pengunjung pun beragam , “ saya menyukai acara-acara seperti ini , karena selain ada bazaar ada juga stand-stand fashion yang menarik “ ujar sovi (20) mahasiswa Uninus . namun ada juga yang berpendapat lain “ saya kesini bersama keluarga , sekalian refreshing “ ujar iwan (45) yang terlihat bersama keluarganya .

Banyaknya antusiasme dari masyarakat membuat acara ini diperkirakan akan banyak mengundang pengunjung pada puncak acara hari ketiga saat ada acara tabligh akbar dari penceramah program musafir di Trans7 yang dipandu oleh zaki mirza dan fun bike & jalan sehat bersama kang ahmad heriawan.

 

 

 

 

Dimensi-Dimensi Komunikasi Antar Budaya

 

Dari tema pokok demikian, maka perlu pengertian – pengertian operasional

dari kebudayaan dan kaitannya dengan KAB. Untuk mencari kejelasan dan

mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang kebudayaan komunikasi antar

budaya, ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan (kim. 1984 : 17-20).

(1) Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi.

(2) Konteks sosial tempat terjadinya KAB,

(3) Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan KAB (baik yang bersifat verbal maupun

nonverbal).

Ad.(1) : Tingkat Keorganisasian Kelompok Budaya

Istilah kebudayaan telah digunakan untuk menunjuk pada macam-macam

tingkat lingkungan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah

kebudayaan mencakup :

– Kawasan – kawasan di dunia, seperti : budaya timur/barat.

– Sub kawasan-kawasan di dunia, seperti : budaya Amerika Utara/Asia

Tenggara,

– Nasional/Negara, seperti, : Budaya Indonesia/Perancis/Jepang,

– Kelompok-kelompok etnik-ras dalam negara seperti : budaya orang

Amerika Hutam, budaya Amerika Asia, budya Cina Indonesia,

– Macam-macam subkelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis

kelamin kelas sosial. Countercultures (budaya Happie, budaya orang di

penjara, budaya gelandangan, budaya kemiskinan).

Perhatian dan minat dari ahli-ahli KAB banyak meliputi komunikasi antar

individu – individu dengan kebudayaan nasional berbeda (seperti wirausaha

Jepang dengan wirausaha Amerika/Indonesia) atau antar individu dengan

kebudayaan ras-etnik berbeda (seperti antar pelajar penduduk asli dengan

guru pendatang). Bahkan ada yang lebih mempersempit lagi pengertian

pada “kebudayaan individual” karena seperti orang mewujudkan latar

belakang yang unik.

Ad.(2) : Konteks Sosial

Macam KAB dapat lagi diklasifikasi berdasarkan konteks sosial dari

terjadinya. Yang biasanya termasuk dalam studi KAB :

– Business

– Organizational

– Pendidikan

– Alkulturasi imigran

– Politik

– Penyesuaian perlancong/pendatang sementara

– Perkembangan alih teknologi/pembangunan/difusi inovasi

– Konsultasi terapis.

Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsurunsur

dasar dan proses komunikasi manusia (transmitting, receiving,

processing). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar

belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran.

Penggunaan pesan-pesan verbal/nonverbal serta hubungan-hubungan

antaranya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang

mempengaruhi prose-proses KAB.

Misalnya : Komunikasi antar orang Indonesia dan Jepang dalam suatu

transaksi dagang akan berbeda dengan komunikasi antar

keduanya dalam berperan sebagai dua mahasiswa dari suatu

universitas.

Jadi konteks sosial khusus tempat terjadinya KAB memberikan pada para

partisipan hubungna-hubungan antar peran. Ekpektasi, norma-norma dan

aturan-aturan tingkah laku yang khusus.

Ad.(3) : Saluran Komunikasi

Dimensi lain yang membedakan KAB ialah saluran melalui mana KAB terjadi.

Secara garis besar, saluran dapat dibagi atas :

– Antarpribadi/interpersonal/person-person,

– Media massa.

Bersama –sama dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga

mempengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari KAB.

Misalnya : orang Indonesia menonton melalui TV keadaan kehidupan di

Afrika akan memilih pengalaman yang be­beda dengan

keadaan apabila ia sendiri berada disana dan melihat dengan

mata kepala sendiri.

Umumnya, pengalaman komunikasi antar pribadi dianggap memberikan

dampak yang lebih mendalam. Komunikasi melalui media kurang dalam hal

feedback langsung antar partisipan dan oleh karena itu, pada pokoknyabersifat satu arah. Sebaliknya, saluran antarpribadi tidak dapat menyaingi

kekuatan saluran media dalam mencapai jumlah besar manusia sekaligus

melalui batas-batas kebudayaan. Tetapi dalam keduanya, proses-proses

komunikasi bersifat antar budaya bila partisipan-partisipannya­berbeda

latar belakang budayanya.

Ketiga dimensi di atas dapat digunakan secara terpisah ataupun

bersamaan, dalam mengklasifikasikan fenomena KAB khusus.

Misalnya : kita dapat menggambarkan komunikasi antara Presiden Indonesia

dengan Dubes baru dari Nigeria sebagai komunikasi internasional,

antarpribadi dalam konteks politik, komunikasi antara pengacara

AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS keturunan

Puerto Rico sebagai komunikasi antar ras/antar etnik dalam

konteks business; komunikasi immigran dari Asia di Australia

sebagai komunikasi antar etnik, antarpribadi dan massa dalam

konteks akulturasi migran.

Maka apapun tingkat keanggotaan kelompok kontkes sosial dan saluran

komunikasi, komunikasi dianggap antar budaya apabila para komunikator yang

menjalin kontak dan interaksi mempunyai latar belakang pengalaman berbeda

UTS Filsafat Islam

 

 

Filsafat Islam

Filsafat adalah berfikir dengan rasional. Filsafat berasal dari kata “philo” yang berarti cinta dan “sophia” yang berarti kebijaksanana. Jadi, dapat diartikan filsafat adalah cinta kebijaksanaan.Mempelajari filsafat harus sampai pada akar-akarnya kalau tidak bisa jadi sesat .

Ciri-ciri khas filsafat islam:

  • Radikal             : mendalam
  • Spekulatif         : bisa iya atau tidak, mungkin atau tidak mungkin
  • Universal          : bersifat umum (tidak terbatas)
  • Rasional           : sesuatu yang masuk akal
  • Sistematis         : runut

Sejarah permikiran dan filsafat

  • Mitos= pemikiran yang bersifat  dongeng atau dugaan semata tujuannya untuk memuasakan pertanyaan yang ada
  • Alam=unsur unsur alam
  • Logika=shopis

Pada zaman mitologi semua alam semesta ini berasal dari mitos.

Menurut pernyataan socrates kebahagiaan itu bisa bersifat universal dan partikular.

  1. Plato yang idealisme

Semua tidak ada yang abadi tapi ada satu yang tidak  musnah yaitu alam ide

  1. Aristoteles yang realisme

Abad 3 setelah M ada yang bernama plotinus dia beragama katolik yang sangat kuat dan taat.

 

Plotinus diam-diam mengkaji filsafat plato.

Yaitu bahwa seluruh kehidupan ini berasal dari cahaya tuhan lalu turun menjadi alam

Agnostic  (ajaran yang tidak percaya mistis) ><  genostic (ajaran yang percaya mistis)

Plotinus terkenal dengan teori pancaran (emanasi)

Kemudian setelah Plotinus, pada abad ke 3-4 munculah Santo Agustinus dia adalah seorang pendeta namun dia juga sangat tertarik di bidang filsafat . Santo Agurtinus saat itu mempelajari filsafat karena dia ingin kristen bisa di terima di Romawi. Dan karena hasil usahanya, akhirnya kristen diterima di Romawi. Santo Agustinus menyatakan 3 hal, yaitu :

–         Tuhan ->    The One           : alam tak berdimensi

–         Yesus ->    The Nouse       : setengah-setengah

–         Alam ->     The Soul           : alam semesta

 

Santo agustinus memiliki peranan yang sangat besar terhadap agama kristen pada waktu itu roma tengah gonjang-ganjing pembasmian terhadap sesuatu yang mistik , mungkin kalo st, agustinus tidak menggunakan filsafat terhadap agama kristen mungkin saat ini kristen sudah punah .

Dari Plotinus ke Agustinus yaitu disebut dengan zaman scolastik.

Sejarah Perkembangan Filsafat Islam

Filsafat berasal dari Yunani kemudian menyebar ke Mesir, Iskandariah, Suriah dan Iran. Di Iran muai diperkenalkan filsafat islam. Filsafat islam berada atau berkembang pada zaman modern. Filosof muslim mengambil filsafat Plotinus. Filsafat muslim merupakan filsafat Plato dan filsafat Aristoteles.

penyebar filsafat Islam.

  1. Al Kindi

Al Kindi berasal dari Arab. Ia adalah seorang pelopor penerjamah kita-kitab Yunani untuk filsafat islam. Dia juga terpengaruh aliran pikiran Plotinus yaitu Emanasi. Akal merupakan proses dan bukan fisik. Muncul akal-akal, yaitu akal 1, akal 2, akal 3, dan akal 4. Al Kindi menyebutkan “Jiwa manusia termasuk pancaran Tuhan”.

  1. Ar Razi

Ar Razi berasal dari persia. Dia menyatakan bahwa “Nabi itu tidak ada dan tidak wajib beriman kepada Nabi”.

  1. Al Farabi

Al Farabi berasal dari Iran. Dia melahirkan pemikiran akal sampe akal 8. Al Farabi ajarannya lebih sitematis dibandingkan dengan Al Kindi.

  1. Ibnu Sina

Ibnu Sina adalah seorang dokter, astronom dan filosofi. Ia melahirkan banyak lagi akal, sampai akal 10. Ibnu Sina menyatakan bahwa “Tuhan itu tidak mengetahui hal-hal yang kecil tetap hanya tahu hal-hal yang besar saja”. Ibnu Sina disebut sesat oleh Imam Ghazali, karena ia tak sependapat dengan Ibnu Sina.

  1. Imam Ghazali

Imam Ghazali mengeluarkan buku yang berjudul “Tahafut Al-Falasifah”. Isinya yaitu mentang ajaran Ibnu Sina.

  1. Ibnu Rasyid

Ibnu Rusyid pun menentang keras Imam Ghazali sampai mengeluarkan buku yang berjudul “Tahafut-Tahafut Al-Falasifah”. Ibnu Rusyd pun terkenal dengan “induksi”.

Pada masa postmodern, terkenal seorang Rene Decartes. Dia adalah seorang khatolik yang berasal dari Prancis dan disebut juga bapak filsafat Modern. Dia adalah seorang yang beraliran Rasionalisme (segala sesuatu itu harus masuk akal). Dia terkenal dengan istilah “Cogito Ergu Sum” yang artinya “aku berpikir aku ada”.

SISTEM KOMUNIKASI NASIONAL (INDONESIA)

Karakteristiknya :

Pola komunikasi didalam suatu negara selalu dipengaruhi oleh sikap dan

pandangan hidup bangsanya sekaligus memberikan bentuk bagi falsafah

komunikasi yang dianut dalam proses interaksi antar orang yang terjadi dinegara

itu. Falsafah komunikasi yang dianut. pada umummya sejalan dengan sistem

politik yang berlaku. Komunikasi mempunyai kemampuan menambah

pengetahuan, merubah dan memperkuat opini, merubah sikap serta

menimbulkan partisipasi secara individual maupun menambah sikap serta

menimbulkan partisipasi secara individual maupun sosial. Keadaan ini

mengharuskan adanya kesamaan pandangan antara supra dan infrastruktur

politik dalam mengimplementasikan kegiatan komunikasi sesuai dengan filsafat

bangsa itu sendiri.

Fred S. Seibert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm, mengajukan

tipologi komunikasi khususnya komunikasi massa yang dikenal dengan istilah

“Four Theories Of the Press” meliputi empat sistem yakni authoritarian

libertarian, social responsibility dan communist – dalam hal ini Komunis Soviet.

Sistem ini juga menjadi aliran didalam sistem pemerintahan yakni otoriter,

liberal, tanggung jawab sosial dan komunis.

Bangunan filsafat komunikasi juga mengacu kepada kerangka empat

sistem tersebut dimana harus terdapat kesamaan pelaksanaan sistem antara sistem pemerintahan yang dianut dengan pelaksanaan sistem komunikasinya.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI :

Sejauh ini terdapat anyak sekali model komunikasi yang telah dibuat pakar komunikasi. Maka disini kita “hanya” akan membahas sebagian kecil saja dari sekian banyak model komunikasi tersebut :

v Model S – R

Model stimulus – respons (S-R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi behavioristik.

Model ini menunjukkan bahwa komunikasi itu sebagai suatu proses “aksi-reaksi” yang sangat sederhana. Jadi model ini mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat nonverbal, gambar dan tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu. Pertukaran informasi ini bersifat timbal balik dan mempunyai banyak efek dan setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi.

Contoh : Anda menyukai seseorang, lalu anda melihat dan memperhatikan wajahnya sambil senyum-senyum. Ternyata orang tersebut malah menutup wajahnya dengan buku atau malah teriak “apa liat-liat, nantang ya?” lalu anda kecewa dan dalam pikiran anda merasa cintanya bertepuk sebelah tangan dan anda ingin bunuh dia.

v Model Aristoteles

Model ini adalah model komunikasi yang paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Model ini sering disebut sebagai seni berpidato.

Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kererpercayaan anda), argumen anda (logos-logika dalam emosi khalayak). Dengan kata lain, faktor-faktor yang memainkan peran dalam menentukan efek persuatif suatu pidato meliputi isi pidato, susunannya, dan cara penyampainnya.

Salah satu kelemahan model ini adalah bahwa komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis.

v Model Lasswell

Model ini berupa ungkapan verbal, yaitu :

Who

Says What

In Which Channel

To Whom

With What Effect

Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi yaitu :

1. Pengawasan Lingkungan – yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan.

2. Korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan,

3. Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.

Akan tetapi model ini dikritik karena model ini mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.

v Model Shannon dan Weaver

Model yang sering disebut model matematis atau model teori informasi. Model itu melukiskan suatu sumber yang menyandi atau menyiptakan pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran kepada seorang penerima.

Konsep penting Shannon dan Weaver adalah :

Gangguan (noise), Setiap rangsangan tambahan dan tidak dikendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan.

Konsep lain yang ikut andil adalah entropi dan redundasi serta keseimbangan yang diperlukan diantara keduanya untuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan dapat mengatasi gangguan dalam saluran.

Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang parsial, komunikasi dipandang sebagai fenomena satu arah.

v Model Newcomb

Komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektif yang memungkinkan orang orang mengorientasikan diri terhadap lingkungan mereka. Ini adalah model tindakan komunikatif dua orang yang disengaja.

Model ini mengisyaratkan bahwa setiap sistem ditandai oleh suatu keseimbangan atau simetri,karena ketidakkeseimbangan atau kekurangan simetri secara psikologis tidak menyenangkan dan menimbulkan tekanan internal untuk memulihkan keseimbangan.

v Model Westley dan Maclean

Menurut pakar ini, perbedaan dalam umpan balik inilah yang membedakan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa. Umpan balik dari penerima bersifat segera dalam komunikasi antarpribadi, dalam komunikasi massa bersifat minimal atau tertunda. Sumber dalam komunikasi antar pribadi dapat langsung memanfaatkan umpan balik dari penerima sedangkan dalam komunikasi massa sumber misalnya penceramah agama, calon presiden yang berdebat dalam rangka kampanye politik.

Konsep pentingnya adalah Umpan balik, Perbedaan dan kemiripan komunikasi antarpribadidengan komunikasi massa. Pesan ini juga membedakan pesan yang bertujuan dan pesan yang tidak bertujuan.

v Model Gerbner

Model verbal Gerbner adalah :

1. Seseorang ( sumber, komunikator )

2. Mempersepsi suatu kejadian

3. Dan bereaksi

4. Dalam suatu situasi

5. Melalui suatu alat

6. Untuk menyediakan materi

7. Dalam suatu bentuk

8. Dan konteks

9. Yang mengandung isi

10. Yang mempunyai suatu konsekuensi

v Model Berlo

Menurut model Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor :

1. Keterampilan komunikasi

2. Sikap

3. Pengetahuan

4. Sistem sosial

5. Budaya

Salah satu kelebihan model ini adalah model ini tidak terbatas pada komunikasi publik atau komunikasi massa, namun juga komunikasi antarpribadi dan berbagai bentuk komunikasi tertulis. Model ini bersifat heuristik (merangsang penelitian).

v Model DeFleur

Source dan Transmitter adalah dua fase yang berbeda yang dilakukan seseorang, fungsi receiver dalam model ini adalah menerima informasi dan menyandi baliknya mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan.

Menurut DeFleur komunikasi adalah terjadi lewat suatu operasi perangkat komponen dalam suatu sistem teoretis, yang konsekuensinya adalah isomorfisme diantara respons internal terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima.

v Model Tubbs

Pesan dalam model ini dapat berupa pesan verbal, juga non verbal, bisa disengaja ataupun tidak disengaja. Salurannya adalah alat indera, terutama pendengaran, penglihatan dan perabaan.

Gangguan dalam model ini ada 2, gangguan teknis dan gangguan semantik. Gangguan teknis adalah faktor yang menyebabkan si penerima merasakan suatu perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba, misalnya kegaduhan. Ganguan semiatik adalah pemberian makna yang berbeda atas lambang yang disampaikan pengirim.

v Model Gudykunst dan Kim

Merupakan model antar budaya, yakni komunikasi antara budaya yang berlainan, atau komunikasi dengan orang asing.

Menurut Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian balik pesan merupakan suatu proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang dikategprikan menjadi faktor-faktor budaya, sosial budaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan.

v Model Interaksional

Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui apa yang disebut pengambilan peran orang lain. Diri berkembang lewat interaksi dengan orang lain, dimulai dengan orang terdekatnya seperti keluarga dalam suatu tahap yang disebut tahap permainan dan terus berlanjut hingga kelingkungan luas dalam suatu tahap yang disebut tahap pertandingan.